Cerita Dewasa Terkulai Lemas Usai Menikmati Tubuh Mertuaku

Posted on 1,940 views

Cerita Dewasa Terkulai Lemas Usai Menikmati Tubuh MertuakuCerita Dewasa Terkulai Lemas Usai Menikmati Tubuh Mertuaku. Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah lagi dan baru punya seorang bayi laki-laki. Suamiku hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kita bisa dikatakan sangat bahagia. Memang kita berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun

Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan.

Di samping itu aku memang juga sibuk dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor bank pemerintah di bagian teknologi, jadi pulangnya sering terlambat.

Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, sampai suatu saat hal hal baru yang mewarnai kehidupan kita, khususnya kehidupan pribadiku sendiri. Saat itu kami mendapat kabar yang ayat mertuaku yang berada di Amerika arah datang ke tempat kami.

Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya sakit.

Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di bandara, suamiku langsung mencari-cari keadilan. Suamiku langsung berteriak gembira saat menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling lenyap rindu. Aku memperhatikan mereka.

Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Dia berasal dari belahan indonesia timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira.

“Hei nak Novi. Apa khabar …! “, Sapa ayah mertua padaku saat ini berpelukan dengan suamiku.

“Ayah, apa kabar? Sehat-Sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika ..? “Balasku.

“Oh … Ibu baik-baik saja. Dia nggak bisa ikut, karena agak sakit, mungkin keseleo …. ”

” Ayo kita ke rumah “, kata suamiku kemudian.

Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kita.
Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama.

Akan ditunda pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah acara ini pada hari Senin malam sejak lewat ayat mertua dari Amerika.

Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak bulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sakit hari.

Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk kurus tinggi akan padat.

Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di kotak tempat tidurnya. Kemudian aku aku tidur di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu.

Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang … Bahkan aku merasakan tubuhku penuh aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang.
Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku.

Tanpa sadar aku menggeliat semua semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang sudah cukup lama kita tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan yang lalu, maka terasa sangat aku suka hal-hal sensitif dari sudut tubuhku.

Tiba-tiba aku sadar dari tidurku … tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remisi aku ke tubuhku. Kemudian aku menemukan ini. Saat aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sakit. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku …

Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata … dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja turun kegiatannya menciumi betisku. Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga penuh rupa pahaku yang putih mulus.

“Yah … !! Berhenti … .jangan …. Yaaahhhh … !!? “Jeritku dengan suara tertahan karena takut oleh Si Inah pembantuku.

“Nov, maafkan Bapak …. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang …. !! “Ia malah bilang seperti itu, aku malu malu olehku.

“Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon …. !!”, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku jadi pembohong sambil mengisi tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku.

Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru turun daster untuk tutup pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akankah mertuaku bikin maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ngeri

“Nov … Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa bercinta dan menikmati badan Novi yang langsing padat ini …. !!!! “, desaknya.

“Jangan berbicara begitu. Ingat Yah … aku kan menantumu …. istri Toni anakmu? “, jawabku mencoba menyadarinya.

“Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan … benar-benar keterlaluan tu anak …. !!, lanjutnya.

Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh …. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. Mertuaku sambil terus urgku mengatakan bahwa ia telah bercinta dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tidak pernah wanita yang memiliki tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan mengira aku akan merasa tersanjung karena ingin bercinta.

Aku mencoba menghindar … tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur. Saat kutatap wajah, aku melihat mimik m yang nebak makin hitam karena telah selesai nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang sudah siap menggebu-gebu.

Melihat cara, aku sadar mertuaku akan ikut apa pun agar maksudnya bercinta kesampaian. Maka terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, agar nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu itu.

“Yahh … biar Novi mengocok Ayah saja ya … karena Novi nggak mau ayah bercinta dengan Novi … Gimana …?”

Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya mantap sedikit kecewa sih bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi.

“Baiklah ..”, kata mertuaku seharusnya tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya.

Mungkin kesalahanku. Aku yakin yakin ini akan meredam rasa ingin bercinta nya. Kupikir sih cowok kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya.

Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu ….

Oooohhhh …… benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar dari punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan tulisan yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, jadi usianya sudah tidak muda lagi.

Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi yang hampir tak bisa muat di tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku.

“Ooooohhh … ..sssshhhh … ..Noviii … eee..eeenaaak … betulll .. !!!” aku mendongak melirik genggam. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya.

Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-akhir-akhir ini telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu saja dan mungkin dalam beberapa kali kocokan dia akan menyemburkan udara maninya. Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang.

Dua menit, tiga … sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah cepat cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali waspada agar tidak ada banyak macam.

“Nggak apa-apa … ..biar cepet keluar ..”, kata mertuaku memberi alasan.

Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak ada lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku.

Aku memang tidak ditemukan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Jadi wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini.

Dasar tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, aku aku rindu dengan keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini dia tidak akan bisa tidur lebih jauh lagi.

“Novi sayang .., buka ya? Sedikit aja .. “, pinta mertuaku kemudian.

“Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak macam-macam .. “, ujarku mengingatkan.

“Sedikit aja. Ya? “Desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku jadi bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada sampai ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang.

“Oh .., Novii kamu benar-benar cantik banget ……. !!!”, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan.

Aku harus beraksi cepat Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar dia cepat cepat dan tidak sakit lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku.

Aku membiarkannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan saat kurasakan mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak usah simpannya. Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku.

Aku tambah bersemangat dan sukses yakin dengan kemampuanku untuk segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat untuk bercinta?

Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar saat mertuaku berusaha menarikku dalamku dan itu pun terlambat!

Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan.

Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku dengan lawan dengan posisi fisik. Kepalaku berada di bawahnya sementara berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan di sekitar selangkanganku. Tubuhku langsung terjaga dan tanpa sadar aku menjerit lirih.

Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitarnya itu. Akh luar biasa! Aku terjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diri sendiri, terbayang pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku.

Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengelurkan isinya ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui itu memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus bercinta.

Aku malah ingin mengimbangi permainan bercinta nya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya.

Tanpa kusadari kita saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku kenyang kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama-sama tidak melihat tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku.

Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar alatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk pembohong. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir sangat cepat.

“Oooohhhhh …… aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa .. Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja.

Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak punya cukup tenaga lagi untuk mempertahankanku, aku hanya tergolek tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan kata-kata cantik cantik aku sekarang ini.

“Noviii … ..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat dengan .., mmpphh .. !!! “, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya.

Aku seolah terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya sangat menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi semua kekagumannya terhadap tubuhku.

Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan penuh indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat dengan menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol ‘.

Diwajah mertuaku kulihat terlihat kekaguman yang tak terhingga saat sedang menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar dua kakiku yang tadinya merapat.

Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu gesekannya makin lancar karena licin.

Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Tunggu saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatapnya memintanya untuk segera masuk diriku secepatnya.

Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun begitulah rasanya ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membangun `KO ‘dalam bercinta. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya dalam bercinta. Kuingin buktikan aku bisa bisa cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan.

“Yah ..?” Panggilku menghiba.

“Apa sayang …”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa.

“Cepetan..yaaahhhhh ……! !!!”

“Sabar sayang. Kamu ingin Bapak ikut apa ……. “Tanyanya pura-pura tak mengerti.

Aku tak menjawab Tentu saja aku malu bilangnya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin dengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku.

“Novii … .iiii … iiiingiiinnnn aaaaaaaa …

Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku hamba, kini malah meminta bercinta. Perempuan macam apa aku ini !?

“Apanya yang dimasukin ……. !!”, tanyanya lagi seperti mengejek.

“Aaaaaaggggkkkkkhhhhh … ..ya … yaaaahhhh. Ja … ..ja … .Jaaangan siksa Noviiii .. !!! ”

” Bapak tidak mau menyiksa kamu sayang …… !! ”

” Oooooohhhhhh .., Yaaaahhhh … Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi …… uugghhhh ..! !! ”

Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi katakannya dengan vulgar saking tak tahan jumpa gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengarnya keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkan bercinta segera.

“Baiklah sayang Tapi pelan-pelan ya “, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku.

“Uugghh ..”, aku melenguh perasaan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol mertuaku. Serasa tak sampai-sampai Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega saat seluruh batangnya amblas di dalam.

Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya.

Gerakan kita semakin lama semakin cepat meningkat. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan.

Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat sasaran. Aku tetap berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.

“Aduuhh .. auuffhh .., nngghh .. !!!”, aku merintih, melenguh dan mengerang semua kenikmatan ini.

Kembali aku terjerat keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah sebutan yang pantas kuberikan. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan informasi yang bejat ini.

Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta ini sangat terlarang dan akan cepat menjadi masalah. Apa saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami.

Mertuaku bergerak cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah yang sensitif. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku.
Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar dengan gelombang dahsyat yang semakin menyenangkan puncaknya.

Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya karena tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu.

Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya jadi menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat.

Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu.

“Yaaaah .., ooooohhhhhhh .., Yaaaahhhhh..eeee … eeennnaaaakkkkkkkk … !!!”

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.

“Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu bisa merasakan kepuasan yang memang belum pernah kamu alami …. “, bisik ayah dengan mesranya.

“Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu …. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini .. “, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis.

Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Kenapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku … ????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis.

“Novi sayang, kenapa menangis?” Bisiknya buru-buru.

“Maafkan Bapak kalau sudah membuatmu ..”, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini. Ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja Aku harus jujur ​​dan adil menyikapinya.

“Bapak tidak salah. Novi yang salah .. “, kataku kemudian.

“Tidak sayang. Bapak yang salah … “, katanya.

“Kita, Yah. Kita sama-sama salah “, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.

“Terima kasih sayang”, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku.

Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil kembali gairahku. Aku masih penasaran saya. Sampai saat ini mertuaku belum juga bisa mencapai puncaknya. Aku seperti punya utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk dipelihara sesuai dengan apa yang sudah ia berikan kepadaku.

Aku tak sadar mengapa diriku jadi sangat antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada disini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku susah pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir.

Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku sampai terlentang.

Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur fisik. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.

Kulirik kewajah mertuaku rasanya disukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya.

“Akh sayang!” pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi.

Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri!

“Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa…..!!!” jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku.

Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku.

Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC.

Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat.

Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda.

Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat.

Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.

“Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouugghhhhhh..!!!!” mertuaku berteriak panjang.

Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku.

Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku.

Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka.

“Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tak tertahankan.

Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik.

Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah…. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip…. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari

Cerita Dewasa Terkulai Lemas Usai Menikmati Tubuh Mertuaku by KISAHPELAKOR.com

yuk simak terus cerita cerita seru lainnya hanya bersama KISAHPELAKOR.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *